Lapas Banyuasin Gelar Salat Istisqa, Warga Binaan Diajak Perkuat Keimanan di Tengah Kekeringan
BANYUASIN, ReformasiRI.com – Suasana khidmat menyelimuti Lapangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuasin, Selasa (1/9/2026). Jajaran petugas bersama warga binaan melaksanakan Salat Istisqa sebagai ikhtiar memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun di tengah kondisi kekeringan.
Kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan momentum menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Pelaksanaannya menjadi bagian dari pembinaan kepribadian dan keagamaan bagi warga binaan di lingkungan Lapas Banyuasin.
Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dilakukan Kepala Lapas Kelas IIA Banyuasin, yang diwakili Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Binadik), Muhammad Yusuf Pamungkas.
Selanjutnya, jamaah bersama-sama melaksanakan Salat Istisqa. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ceramah keagamaan yang disampaikan Ustaz Rudi Hartono dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuasin.
Dalam suasana penuh kekhusyukan, seluruh peserta juga mengikuti doa bersama. Mereka memohon agar Allah SWT menurunkan hujan, memberikan keberkahan, serta menjauhkan masyarakat dari berbagai dampak dan kesulitan yang ditimbulkan oleh kekeringan.
Selain sebagai bentuk ikhtiar menghadapi kondisi alam, kegiatan tersebut menjadi sarana pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan. Nilai-nilai keagamaan diharapkan dapat menjadi bekal bagi mereka selama menjalani masa pembinaan di Lapas.
Pihak Lapas Banyuasin juga terus membangun sinergi dengan MUI Kabupaten Banyuasin dalam mendukung berbagai kegiatan pembinaan keagamaan bagi warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Banyuasin, Reza M Purnama, melalui Plh Kepala Lapas, Firzon, mengatakan Salat Istisqa menjadi momentum untuk mengajak seluruh jajaran dan warga binaan meningkatkan keimanan sekaligus memanjatkan doa bersama.
“Salat Istisqa merupakan ikhtiar spiritual dan bentuk doa bersama agar Allah SWT memberikan hujan serta melindungi kita dari dampak kekeringan dan berbagai kesulitan,” ujar Firzon.
Menurutnya, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW juga memiliki makna penting dalam proses pembinaan warga binaan. Keteladanan Rasulullah diharapkan dapat menjadi nilai yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW ini, kami berharap nilai-nilai keteladanan Rasulullah dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam proses pembinaan warga binaan,” pungkasnya.
ReformasiRI.com





